Sejarah Paroki

Masa Perintisan (1946 – 1969)

Gereja Jalan Malang itu tumbuh perlahan – lahan. Dalam tahun 1946 pada saat – saat penuh bahaya maut imam datang mempersembahkan Misa pada hari minggu di rumah ini, yang waktu itu didiami oleh keluarga Katolik. Banyak yang datang dan ketika pastor anda yang sekarang kembali ke Indonesia, didapatinya rumah itu penuh sesak sampai tiga kali satu hari Minggu. Kini tugas yang diberikan kini tugas yang diberikan pembesar harus dilaksanakan ialah : kita harus membangun paroki baru dengan gedung gereja sendiri, dengan sekolah dan pastoran. Tentu anda semua tahu bahwa hal itu tidak dapat di selesaikan segera mengingat situasi sekarang. Akan tetapi selama setangah tahun terakhir sudah banyak kemajuan: gereja darurat sudah diperluas sehingga kini dapat memuat 800 umat dalam tiga misa hari Minggu, ialah jam 06.00, jam 07.15 (misa untuk anak – anak dengan doa dan nyanyian bersama) dan jam 08.30. Di samping gereja, pastor tinggal dalam pastoran mini.

Deretan kalimat diatas adalah penggalan surat yang ditulis Pastor J. Awick, SJ dalam tahun 1948 kepada Uskup jakarta waktu itu, Mgr. P. Willekens, SJ. Penggalan surat ini menjadi cacatan kondisi dan perkembangan awal dari cikal bakal apa yang sekarang dikenal sebagai Paroki St. Ignatius Jakarta. Dari sinilah cerita bermulai.

Stasi Jl. Malang

Gereja darurat pertama

Imam yang dimaksud dalam kutipan diatas adalah Pastor J. Van Niekerk, SJ yang waktu itu Pastor Kepala Paroki Sta. Theresia. Mengingat perkembangan umat paroki Sta. Theresia semakin meluas dan juga situasi masa perjuangan yang belum menuntun, Pastor Van Niekerk memperluas layanan umatnya dengan memulai sebuah ‘stasi’ kecil dalam rumah salah satu keluarga Katolik di Jl.Malang No.23 (sekarang susteran). Ruang tengah rumah seminggu sekali digunakan sebagi tempat mempersembahkan misa bagi umat Katolik di sekitar Jl. Cik Ditiro dan Kali Malang. Segera saja rumah tersebut menjadi terlalu kecil dengan semakin bertambahnya jumlah umat yang menghadiri misa Minggu. Karena itu pada tanggal 10 April 1946, pastor menulis surat kepada uskup, “Karena ruang rumah yang dipakai untuk misa hari minggu sudah tidak dapat menampung umat yang kian bertambah, kurang lebih seratus orang, maka untuk sementara kami akan mengadakan misa dua kali sampai dapat menemukan tempat yang lebih pantas”.

Sejak itu ada semacam tekad dalam diri Pater Van Niekerk untuk mendirikan sebuah gedung gereja yang layak bagi umat yang makin berkembang, sebagai pelebaran dari Sta. Theresia.

Namun perjalanan untuk mewujudkan tekad tersebut ternyata tidak berlangsung secepat yang diharapkan.

Tanggal 8 Juli 1948, rumah Jl. Malang 22 berhasil dibeli setelah pemiliknya kembali ke negeri Belanda. Sebulan kemudian, Pastor J. Awick, SJ menggantikan Pastor Van Niekerk, SJ sebagai pastor kepala Paroki Sta. Theresia. Dengan semangat yang tak kalah dari pendahulunya, Pastor J. Awick, SJ memperluas ‘gereja’ Jl. Malang 23 ke halam belakang rumah yang diberi emperan. Alhasil upaya ini mampu menambah kapasitas umat hingga mampu menambah 250 orang. Walau demikian, kondisi ini masih termasuk darurat tingkat tinggi, sebab jumlah umat telah mencapai 3000 orang dan hampir seluruhnya adalah warga keturunan Belanda. Dengan perkembangan yang pesat ini nampaknya tak bisa ditunda lagi bahwa stasi Jl. Malang perlu ditangani secara khusus. Sejak 1 Oktober 1948, Pastor J. Jansen, SJ diangkat menjadi ‘pastor kepala’ pertama ’paroki’ Jl. Malang.

Berdirinya Paroki Ignatius

Keputusan untuk melakukan penanganan khusus umat stasi Jl. Malang semakin membuat gencaran upaya pembangunan gedung gereja yang baru. Dimulai dengan upaya pencarian tanah. Berbagai lokasi diusulkan. Pastor J. Awick mengusulkan tempat di sebelah selatan banjir kanal antara lain di Jalan Salak, karena disitu masih terdapat banyak tanah kosong. Kalau disebelah utara beliau mengusulkan lokasi samping Jl. Surabaya dan Boulevard (sekarang Jl. Diponegoro).

Namun ternyata upaya memperoleh sebidang tanah untuk gereja baru ini tidaklah mudah. Bapak Uskup jakarta waktu itu, Mgr. Willekens, SJ, berusaha sendiri lewat jalur resmi dengan melakukan pendekatan ke kantor gubernur dan Dinas Pekerjaan Umum. Namun segala upaya yang ditempuh Bapak Uskup awal tahun 1949 ini belum membawa hasil.

Kegagalan tersebut tidak menghalangi Bapak Uskup untuk meresmikan umat stasi Jl. Malang menjadi paroki tersendiri. Pada tanggal 8 Maret 1949 Bapak Uskup mengeluarkan ketetapan berdirinya Pengurus Gereja dan Dana Papa RK Gereja St. Ignatius atau yang dikenal sebagai “Stichtingsbrief Van Het R.K. Krek En Armbestuur Van Ge Krek Van den H. Ignatius Te Batavia”. Dalam surat tersebut ditetapkan susunan pengurus PGDP sebagi berikut: ketua adalah Pastor J. Awick, SJ; Sekretaris merangkap bendahara Pastor J. Jansen, SJ dengan dibantu oleh tim Bp H. Oei Tjoei Liang, Bp. Dr. A. W.J. Soeradi, Bp P. Paulsen, Bp. J.F. Baas.

Gereja Darurat Kedua

Hingga tahun 1955 upaya pencarian tanah untuk gedung gereja masih belum membuahkan hasil. Pada 15 Juli 1955, Pastur J, ban Niekerk, SJ kembali ke Jl. Malang manggantikan Pastor J, Jansen, SJ yang dipindahkan ke Bidaracina. Saat itu ada dua persil yang mau dijual satu di pojok Jl. Malang dan Jl. Krakatau (sekarang Jl. Latuharhari) dan satu persil lagi terletak disebalahnya.

Kebetulan Pastor van Niekerk baru mendapatkan ‘durian runtuh’,secara tidak terduga beliau menerima warisan dalam jumlah besar dari salah seorang famili yang meninggal dunia. Beliau pun diijinkan untuk menggunakan dan tersebut guna membeli persil tersebut.

Maka jadilah persil pertama disudut Jl. Malang dan Jl Karakatau dengan luas 2050 M2 dibeli untuk membangun sebuah gereja. Mulailah  di tahun 1957 dibuat perencanaan pembangunan gereja. Akan tetapi tanah yang ada tidak cukup besar untuk membangun sebuah gereja.

Tanggal 1 Agustus menjadi hari bersejarah bagi SR VI strada Jl. Madiun 14. Pada hari itu sekolah resmi pindah ke gedung baru sekaligus diresmikan menjadi SR VI St. Ignatius. Gedung bawah bangunan dipergunakan utnuk sekolah dan gereja terletak di bagian atasnya. Sore hari ruangan dipergunakan untuk membuka SMP.

Gereja darurat kedua di gedung sekolah berhasil rampung pada tahun itu juga. Pada 20 Desember 1959 segala aktivitas liturgi Paroki St. Ignatius pindah dari gereja rumah ke gereja aula. Memang belum sebuah gereja betul, tetapi kemajuan ini amat menggembirakan kami, “tulis Pastor van Niekerk kepada Bapak Uskup.

Pada waktu itu jumlah umat yang semula tiga ribuan merosot hingga separuhnya. Hal itu disebabkan terjadi eksodus besar warga keturunan Belanda ke tanah asalnya. Jumlah umut menjadi tinggal 1628. Dan sejak 1958, Pastor van Niekerk tidak lagi sendirian bertugas di Paroki St. Ignatius. Beliau dibantu berturut – turut oleh Pastor C. De Meulder, SJ (1958 – 1961), Pastor M. Oei Tjiang, Sj (1962 – 1963) dan Pastor P. Teeuwisse, SJ (1963 – ...).

Gereja pun berdiri

Lima tahun berselang sejak gereja – aula beroprasi, muncul kesempatan memperoleh tanah tanah kembali. Persis di sebelah bangunan sekolah,  di sudut Jl. Krakatau dan Jl. Mampang (kini Jl. Teuku Cik Ditiro) ada rumah besar meliputi tiga persil. Rumah dan tanah seluas 1940 M2 tersebut milik orang Belanda yang telah kembali ke negerinya. Lewat upaya yang tidak terlalu mudah, akhirnya Pastor van Niekerk berhasil membeli tanah dan rumah tersebut yang sejak 1964 resmi terdaftar atas nama Pengurus Gereja dan Dana Papa.

Bangunan megah gereja yang selama ini diimpikan mulai terbayang di benak pastor van Niekerk. Namun rupanya perjuangan Pastor van Niekerk sudah dianggap cukup, sehingga pembangunan gedung gereja diwariskannya ke Pastor Th. Liem Sik Hok, SJ yang sejak 15 Juli 1965 menjadi pastor kepala Paroki St. Ignatius. Pastor van Niekerk sendiri dipindah ke Bidaracina.

Pastor kepala beserta pengurus gereja segera mematangkan rencana. Bernard Yusuf, salah seorang warga yang arkitek diminta untuk merancang bangungan gereja. Bakal lokasi gereja itu sendiri memang tidak luas dan terletak di sudut jalan. Namun dengan segala kreativitasnya sang arsitek mampu menghadirkan konsep rencangan gereja yang indah dan manis.

Tanggal 6 Februari 1967, Ijin Mendirikan Bangunan resmi diberikan. Pekerjaan pembangunan pun segera dimulai dibawah pengawasan Bagian Pembangunan Keuskupan Agung Jakarta, dengan tenaga pelaksana Bapak Bernard Yusuf. Pembangunan gereja memang tidak mulus berjalan dan memakan waktu dua tahun lebih hingga selesai. Hal itu disebabkan oleh kesalahan perencanaan konstruksi baja atap beserta persoalan – persoalan lainnya.

Sementara pembangunan gereja berjalan, Pastor Liem mulai mencari tenaga baru untuk karya – karya sosial di paroki. Uskup Agung Jakarta saat itu, Mgr. A. Djajasapoetra, SJ mendekati konggeregasi suster – suster Yesus Maria Yosef. Para suster bersedia membantu baik di bidang pendidikan maupun kesehatan.

Sejak Oktober 1966, pemimpin dan kepengurusan TK, SD, dan SMP diserahkan kepada para suster YMY. Gedung – gedung tetap menjadi milik paroki.

Kebutuhan berikutnya sudah barang tentu adalah tempat tinggal suster – suster. Kebetulan di belakang gereja yang ada sebuah rumah kosong yang sangat cocok untuk pastoran. Rumah tersebut adalah rumah mantan pimpiman PKI, Nyoto, yang sedang di duduki tentara. Apabila rumah tersebut berhasil dibeli dan dijadikan pastoran, maka rumah pastoran di Jl. Malang 23 akan diperuntukan bagi tempat tinggal suster – suster.

 Masa Transisi (1985 – 1990)

Setelah satu tahun Paroki Jalan Malang menjadi “tanah tak bertuan”, kondisi di mana jabatan pastor kepala tidak pernah diemban hingga satu tahun. Seperti Pastor R. Sarto Pandoyo, SJ yang hanya bertugas 6 bulan, karena akan study ke Roma dan pastor T. Suyudanto, SJ yang hanya beberapa bulan. Akhirnya sejak semester pertama 1985, Paroki Jalan Malang mendapat seorang pastor kepala untuk masa tugas yang cukup panjang.

Namun berbeda dari tahun – tahun sebelumnya, pastor kepala kali ini bukan berasal dari kongregasi Serikat Jesus namun dari Maryknoll Fathers, Projo dari Amerika yang melakukan pembenahan – pembenahan struktur keparokian. Paroki jalan malang dipimpin oleh Pastor William P. Hafernan, MM (akrab di panggil Romo Bill) menggantikan Pastor T. Suyudanta, SJ.

Pergantian kali ini sangat istimewa dibanding biasanya, lengkap dengan upacara serah teima resmi di lingkungan pastoran Jalan Malang 22. Selain upacara lepas tugas sambut pastor kepala baru dan lama, upacara kali ini juga menjadi tanda serah terima pembinaan dari Konggregasi Serikat Jesus ke bawah wewenang dan pengelolaan Keuskupan Agung Jakarta dengan pasuknnya imam – imam sekular atau projo. Upacara ini juga menandakan bahwa selanjutnya Paroki Jalan Malang berada dalam keadaan transisi sebelum akhirnya dikelola penuh oleh imam – imam Projo.

Pada masa peralihan ini ada tiga kegiatan penting bagi kehidupan paroki. Yang pertama adalah disusunya buku AD/ART Pengurus Gereja dan Dana Papa Paroki Jalan Malang. Lewat AD/ART, peranan dan fungsi pengurus menjadi semakin jelas.

Yang kedua, pastor kepala bersama anggota PGDP menerbitkan buku petunjuk tatacara liturgi. Buku ini berguna sebagai pedoman standar tata cara hidup. Lewat buku ini pula, jika para imam berhalangan memimpin ibadat, maka kehadirannya digantikan wakil umat lewat panduan buku ini.

Pastor bill sebagai seorang dokter ahli hukum gereja yang banyak membereskan perkawinan campur umat Paroki Jalan Malang, sehingga secara hukum gereja menjadi perkawinan yang sah.

Pada tahun 1989, ijin kerja Pastoran Bill di Indonesia sudah habis dan tidak bisa diperpanjang lagi. Peran pastor kepala selanjutnya diambil alih Pastor Frans Doy, Pr yang menjabat selama satu tahun. Dengan ini masa peralihan berakhir, Paroki Jalan Malang resmi dikelola oleh Imam Projo Jakarta.

Pengembangan Paroki Setelah Masa Transisi (1990 – 2000)

Sebelum krisis moneter melanda Indonesia, Paroki Jalan Malang berbenah diri secara fisik, fasilitas yang berkaitan dengan ibadat dan pelayanan umat menjadi prioritas. Ketika krisis moneter melanda Indonesia, konsentrasi umat paroki Jalan Malang beralih ke pelayanan sosial, berbagi kasih secara nyata.

  1.  Peningkatan Fasilitas dan Perangkat Gereja
    Penggantian Romo Bill, RD J. Wiyanto Harjopranoto telah menyiapkan beberapa rencana untuk mempercantik gereja. Langkah awal Romo Wiyanto adalah menyemarkan perayaan misa, Romo Wiyanto bahkan meminta orgel pipa untuk ditempatkan di gereja Santo Ignatius. Padahal pada saat itu belum ada organis paroki yang mampu memainkannya. Seiring dengan program kerja KAJ,  diadakan pengadaan dan pergantian buku nyanyian misa dari Madah Bakti menjadi Puji Syukur. Peningkatan Fasilitas ibadah ini diharapkan bisa membuat umat menjadi semakin bergairah mengikuti ekaristi.
  2. Goa Maria
    Pembangunan Goa Maria di kompleks gereja merupakan prioritas pertama dalam usaha peningkatan fasilitas gereja, mengingat Goa Maria merupakan salah satu wujud dari kecintaan umat kepada Bunda Maria. Bulan september 1990, panitia pembangunan Goa Maria yang diketuai Beny Kosasih mulai bekerja dengan target sudah diberkati sebelum hari raya natal 1990. Berbagai pihak telah dihubungi untuk dapat bekerja sama, baik dari kelompok kategorial Karismatik dan ME, pengusaha maupun dari pihak luar sebagai tenaga ahli. Biaya pembangunan Goa Maria beserta saran kelengkapannya 13 juta rupiah. Pengumpulan dana dilakukan melalui kotak sumbangan di tiga pintu masuk gereja yang dipasang setiap hari minggu selama pembangunan berlangsung.Dengan demikian diharapkan seluruh umat paroki bisa berpartisipasi mewujudkan Goa Maria. Menjelang hari raya natal, 23 desember 1990, Goa Maria yang diresmikan dengan nama Goa Maria  Imaculata ( Santa Maria yang tidak bernoda ) dapat diberkati oleh Vikaris Jendral Keuskupan Agung Jakarta, Pastor M.Soenarwidjaja, SJ yang mewkili Uskup Agung Jakarta, Mgr.Leo Soekoto, SJ yang waktu itu sedang sakit.
  1. Wisma Santo Ignatius
    Perkembangan sebuah paroki bukan hanya tampak dari jumlah umat yang hanya semakin meningkat, namun juga kualitas umat turut menentukan kedewasaan sebuah paroki. Umat bukan hanya dilayani tapi juga diajak berperan aktif untuk bersama –sama membangun dan mengembangkan paroki. Untuk itulah Dewan Paroki Jalan Malang melengkapinya dengan berbagai seksi bersama fasilitas pendukungnya. Sementara kondisi paroki sampai tahun 1991 tidak memadai untuk segala kegiatan seksi maupun kelompok kategorialnya. RD J. Wiyanto Harjopranoto sebagai pastor kepala bersama dewan paroki bertekad untuk membangun gedung paroki yang dapat menjadi pusat pelayanan dan kegiatan umat Paroki Jalan Malang. Obsesi tersebut tentu saja dikonsultasikan dengan Uskup dan ternyata menyetujui dalam pertemuan dengan DP pada tanggal 12 Juli 1992. Namun sebelum pembangunan gedung dilaksanakan, Pastor Wiyanto dipindahkan ke paroki Aloysius Gonzaga Cijantung, dan digantikan RD Jacobus Tarigan.
    Melalui beberapa survei dan konsultasi yang dilakukan oleh Panitia Pemabangunan yang dikenal dengan istilah PPG, didapatlah konsep pembangunan gedung paroki yang cocok dengan sifat dan situasi Paroki Jalan Malang. Berdasarkan saran dari Bapak Uskup sendiri, Gedung Pastoran dipisahkan secara jelas dengan gedung pelayanan dan kegiatan umat. Anggaran dipersiapkan dengan matang lengkap dengan berbagai sumber dana yang sebagian besar adalah partisipasi dari umat paroki sendiri dan anggota PPG. Modal kas paroki sebesar 100 juta, namun PPG berani menganggarkan sebesar 400 juta rupiah. Berkat kerja keras seluruh PPg, dana tersebut terkumpul sesuai target.
    Pembangunan kompleks gedung paroki segera dapat direalisasikan, dengan upacara peletakan batu pertam oleh Uskup Agung Jakarta, Leo Soekoto,SJ pada tanggal 14 Februari 1993. Selanjutnya pembangunan dapat dilaksanakan di atas tanah seluas 700m2, dengan membangun 3 unit, yaitu unit pastoran, unit pelayanan khusus/konsultasi dan unit pelayanan umum untuk pertemuan rapat dan kegiatan lain. Ketiga unit tersebut dibangun dalam 2 lantai dengan 22 ruangan yang luasnya berbeda menurut fungsinya.
    Pembangunan selesai dalam waktu 77 bulan lebih cepat dari yang telah dijadwalkan, sehingga pada tanggal 3 Oktober 1993, Gedung Paroki telah dapat diserahkan kepada Dewan Paroki. Seluruh biaya pembangunan gedung paroki dapat tertutup tanpa harus membayar hutang kepada siapapun.